Rabu, 23 Agustus 2017

KORUPMATIKA

Ah, istilah yang digunakan untuk judul di atas itu hanya karangan sekenanya saja, maksudnya sih "matematika korupsi"....
Tujuannya (biar kelihatan keren alias sok ngelmu....) untuk menjawab pertanyaan brapa tahunkah kita kehilangan waktu membangun akibat korupsi?
Mari kita pakai langkah-langkah seperi mengerjakan PR pelajaran matematika.

Diketahui :
- Lamanya Indonesia Merdeka sudah 72 tahun
- Asumsi besarnya korupsi di Indonesia sebesar 30%
- Asumsi 30% korupsi uang = 30% kehilangan waktu membangun
- Tahun ini adalah 2017

Jawab :
Tahun x = Tahun ini - (lamanya merdeka x asumsi tingkat korupsi)
= 2017 - (72 x 30%)
= 2017 - 21,6
= 1995,4
Jadi, berdasarkan hitung-hitungan di atas :

- Indonesia HARI INI harusnya dicapai pada tahun 1995 duluuuu, atau...................
- Indonesia HARI INI harusnya seperti Indonesia pada tahun 2038 nanti (2017 + 21,6)

Wow, ternyata dashyat juga ya akibat yang ditimbulkan oleh kebocoran anggaran alias korupsi. Padahal (mungkin) niatnya sih bukan untuk korupsi, tapi sekedar "bagi-bagi kue pembangunan" saja,, hehe,,
Atau cuma memelesetkan sedikit, misalnya dengan menggunakan istilah uang tanda terima kasih bagi pejabat yang mengucurkan anggaran pembangunan, dan dibungkus dengan istilah adat ketimuran, karena orang timur dikenal sebagai orang yang pandai berterimakasih kali ya, tapi persoalannya adalah dana yang dipakai untuk berterimakasih itu bersumber dari dana untuk pembangunan alias motong/ngiris dari dana pembangunan, akhirnya yang jadi korban ya kualitas/kuantitas bangunan yang pada ujungnya berpengaruh kepada life-time bangunan alias umur bangunan itu sendiri.

Karena (kita) tak kunjung sadar, terbukti praktek korupsi yang terungkap semakin menggila, tampaknya kita harus mulai melakukan upaya-upaya pendidikan korupsi pada generasi muda, sehingga sejak dini terjadi kesamaan pandang tentang persepsi korupsi, sehingga pada akhirnya terjadi kesamaan sikap untuk tidak melakukan korupsi.

Dirgahayu Indonesia, semoga negeriku merdeka dari penjajahan para koruptor.....!

Selasa, 13 Desember 2016

PUCAT PASI SAWAHKU

Siapa bilang kedaulatan pangan kita terancam?
Buktinya sebagian besar dari kita masih makan cukup setiap harinya
Dan bersisa...
yang selalu kita lempar ke ayam milik tetangga yang sering mengotori teras setiap paginya
(makanan kemaren dulu yang sudah dihangatkan satu dua tiga kali hingga hilang rasanya)
Dan ayampun muntah....

Siapa bilang sawah di negeri kita tak subur lagi?
Lihatlah itu dia masih hijau menyejukkan matamu
Walau tak sejauh mata memandang lagi
Tapi tetaplah hijau

Siapa bilang sawah di kampung kita tak subur lagi?
Lihatlah itu dia masih hijau muda pucat pasi
Dan sudah bukan milik kita lagi
Karena telah ditukar menjadi ijazah sarjana anak-anak kita yang hari ini masih berebut sesuatu yang tak pasti
Sawah kita tetap subur, tapi tak lagi sehijau kemarin pagi

Siapa bilang sawah di kampung kita tak subur lagi?
Lihatlah itu dia semakin hijau menyilaukan mata hati
Saking suburnya sawah kita bukan hanya menghasilkan padi, jagung dan kedelai
Kini di lahan sawah kita telah tumbuh perumahan dan minimarket yang tak henti tumbuh bak rumput teki
Bahkan jalan tol dan bandara pun tumbuh diatas lahan sawah kita
Tak peduli pita kaset dan orang-orangan untuk menakuti burung yang dipasang di setiap sudut batas lahan kita
Dan mengusir bolokotono yang biasa hinggap di kangkung belanda yang tumbuh di pematang
Bahkan tikus dan ular penghuni lubang-lubang tersembunyi di pematang pun terusir dan lari terbirit-birit
Tak kuat menahan bisingnya sirine intimidasi dan beratnya buldozer yang memporakporandakan lubang persembunyian
Sawah kita semakin subur, tapi merah tak lagi hijau, menyilaukan

Kini bermain lumpur saat tandur sudah jadi bagian dari piknik bagi anak-anak kita
Hijaunya padi, jagung dan kedelai di pesawahan hanya dapat dilihat di media sosial dalam genggaman tangan dunia maya anak-anak kita
Takutku adalah, bila anak-anak kita nantinya tak mengenal dari mana padi yang mereka makan setiap harinya
Takutku adalah, anak-anak kita tak mengenal lagi petani  dan kemudian tercabut dari akar budaya nenek-moyangnya
Takutku adalah, padi, jagung dan kedelai hanya akan dianggap sebagai hal-hal abstrak karena belum pernah dilihatnya secara nyata
Takutku adalah, bila tak ada lagi yang takut bila kenyataannya makanan yang dimakannya bukan berasal dari tanah di negeri tempat dimana ia harus merasa bangga
Takutku adalah, bila membanjirnya uang seperti air bah sebagai pengganti lahan sawah yang hilang membuat orang-orang merasa merdeka dan berdaulat karena meyakini uang adalah segalanya
Takutku adalah, mereka lupa bahwa uang tak dapat digunakan untuk membeli sesuatu yang tidak ada

Siapa bilang kedaulatan pangan kita terancam?
Buktinya sampai hari ini, kita masih bisa saling-memakan satu sama lain...!



Girimadani Senter – April 2016
Chik Hikmawan Priemathez


Senin, 02 Mei 2016

Momento Mori di Hari Bumi - 22 April 2016

Hari Bumi - 22 April 2016
Lima moment yang luar biasa terjadi di Girimadani Senter :
1. Momento mori (ingat akan kematianmu), ditandai penyerahan bibit dr Kepala Desa kepada warga komunitas tertua, bahwa yg tua2 mesti mensyukuri segala apa yg diberikan bumi kepada kita, dengan cara berupaya mewariskan bumi yang hijau
2. Aku menanam maka aku ada, upaya membangun komitmen generasi muda untuk memelihara bumi dengan cara ^menanam sampai mati^,, ditandai dengan penyerahan bibit dari Kadus Saptu kepada warga komunitas termuda
3. Pejabat pun ikut aksi menanam, sebab memelihata bumi adalah tanggungjawab bersama
4. KawanS Girimadaniers yg dekat, jauh, bahkan dr negara luar pun ikut aksi menanam disini, sebagai bentuk cinta kepada bumi, ini menandakan bahwa cinta bumi tak bisa dihalangi oleh batas-batas wilayah administratif,,,
Sebab desa kita adalah desa dunia.
Salam Sahabat Bumi,,,,,







Selasa, 01 Desember 2015

Main-main Mind - Girimadani Senter

"Main-main Mind" adalah kegiatan road to show the beautiful of Kulur-undercover, (hehe, gaya lah inggris-inggrisan).
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan para pemuda dan pelajar yang ada di Desa Kulur Kecamatan Majalengka Kabupaten Majalengka kepada alam yang ada di lingkungan desanya.
Dari mengenali alam desanya sendiri yang demikian indah diharapkan tumbuh rasa cinta kepada tanah kelahiran dan lingkungannya.
Perjalanan ini adalah salahsatu bagian dari gerakan menghijaukan pola pikir sikap dan perilaku yang merupakan misi GirimadaniSenter sebagai sebuah komunitas yang peduli dan cinta serta penggerak kelestarian lingkungan hidup.
Gerakan penyadaran ini diusung dengan cara yang rekreatif dan gembira sehingga peserta tidak merasakan bahwa dirinya sedang dicekoki, di-brain wash oleh GirimadaniSenter untuk menjadi generasi penerus yang cinta lingkungan hidup lestari.

Perjalanan ini seperti perjalanan wisata ke alam yang nun jauh disana, padahal alam yang demikian indah ini ada di desa sendiri. Namun karena seringnya kita menganggap remeh apa yang kita miliki, maka selalu terjadi kita terlambat menyadari bahwa kita memiliki keindahan yang potensial untuk dinikmati secara bermartabat dan lestari. 
Tebing batuan cadas yang menjulang tinggi dengan air terjun menghiasi permukaannya benar-benar menghipnotis siapapun yang memandangnya, seakan berada di sebuah tempat yang entah dimana.
Air terjun ini terletak di Blok Cijurey Desa Kulur Kecamatan Majalengka Kabupaten Majalengka Jawa Barat, sebuah lokasi yang berbatasan dengan areal hutan milik Perhutani. Air terjun (curug) ini berada sekitar 1 km di sebelah selatan permukiman kampung/blok Cijurey pada areal yang memiliki tofografi curam, ciri khas areal hutan lindung milik Perhutani.
Air terjun ini berada di sepanjang Sungai Cijurey yang mengalir dari puncak bukit menuju lembah dan membelah kampung Cijurey menjadi dua bagian. 
Di sepanjang Sungai Cijurey ini terdapat tiga buah air terjun yang indah, yaitu Air Terjun Situhiyang, Katumbiri dan Mahpar. Ketiga curug (air terjun) tersebut sangat indah, air mengalir diatas batuan cadas yang terhampar kokoh sebagai bagian dasar sungai, airnya yang sejuk walaupun tidak jernih, sangat memanjakan jiwa yang haus keindahan,  Tuhan memberikannya dengan gratis disini.
Lokasi ini awalnya biasa-biasa saja dan tidak dianggap istimewa oleh penduduk sekitarnya, namun entah siapa yang memotretnya untuk pertama kali dan menyebarkan keindahannya melalui media sosial, curug ini semakin dikenal orang dan semakin membuat orang ingin mengunjunginya. Kali ini sudah mulai ada pengunjung walaupun hanya sedikit, namun ini merupakan embrio dari tumbuhnya curug ini menjadi salah satu destinasi wisata alam yang potensial.

Untuk menjadi lokasi destinasi wisata yang beken memang tidak mustahil, namun ada beberapa hal yang menjadi tantangan sebelum benar-benar jadi destinasi wisata, antara lain : infrastruktur jalan menuju lokasi sangat perlu untuk ditingkatkan kualitasnya sehingga tidak membahayakan pengunjung, dan bahkan menambah kenyamanan pengunjung, demikian pula infrastruktur pendukung lainnya seperti tempat parkir, tempat istirahat maupun tempat makan pun perlu di-create agar menunjang kenyamanan pengunjung. Disamping itu pula, budaya pariwisata masyarakatnya juga perlu dipersiapkan agar tumbuh industri kreatif yang saling mendukung dengan adanya potensi wisata alam ini. 
Namun, curug indah ini sudah tercipta, keindahannya sudah terpublikasi, tentu tak harus menunggu semua infrastruktur pendukungnya siap terlebih dahulu untuk berkunjung kemari, datang sajalah, dengan niat baik dan tulus untuk menikmatinya, jaga keaslian dan keasriannya, mari pelihara titipan Tuhan ini dengan sepenuh jiwa, dan jangan coba-coba merusaknya!
Alam ini adalah pinjaman dari anak cucu kita, mari jaga dan lestarikan.
Salam.
GirimadaniSenter.


Sabtu, 28 November 2015

"Main-main Mind"

Sudah tidak sabar untuk destinasi besok di Curug Cijurey Kulur bersama All Lover Girimadani Senter (KT As-Salam, LKM Madani Mekar, KP Madani Mandiri, Barudak Baret Madani).
Semoga tumbuh rasa cinta, sebab rasa cinta lah yang akan menumbuhkan sikap positif lainnya terhadap desa tanah kelahiran...
Well come home mind-stranger....!

Senin, 07 September 2015

CIJUREY JADI DESTINASI WISATA, WELCOME TO CIJUREY KULUR....!

Cijurey adalah salah satu dusun yang termasuk dalam wilayah Desa Kulur Kecamatan Majalengka Kabupaten Majalengka. Lokasi blok ini terpisah sekitar 3 KM dari pusat desa dengan tofografi perbukitan, dan berbatasan dengan areal Perhutani. 
Dari Cijurey ini, tepatnya di lokasi yang dikenal dengan nama Jalan Cagak, kita dapat melihat kota Majalengka berada di bawah sana, sebuah pemandangan yang indah dan  menyejukkan siapapun yang memandangnya, karena hampatan hijau sepanjang mata memandang seakan memanjakan mata kita.
Disamping itu pula, di ujung kampung dan termasuk wilayah hutyan Perhutani terdapat 3 buah air tejun yang indah, yaitu Curug Situhiyang, Curug Mahpar dan Curug Katumbiri. Ketiga curug (air terjun) tersebut memang belum banyak dikenal oleh warga sekitar Majalengka sekalipun, padahal apabila dikembangkan menjadi tujuan wisata tentu tidak kalah menariknya dibanding dengan curug-curug lain yang ada di Majalengka.
Dengan potensi yang dimiliki tersebut, GirimadaniSenter mendorong masyarakat Cijurey untuk mengembangkan potensi wisata alam ini, dimulai dari mempromosikan dan menyiapkan sarana prasarana dan infrastruktur penunjangnya serta menyiapkan masyarakatnya untuk berbudaya pariwisata (asri, bersih, ramah, terbuka, berkarakter, amanah). 
Ini baru langkah awal, tapi langkah awal sangatlah penting,,,, 
Selanjutnya kami akan mengucapkan :
Visit Cijurey pleaseeee,,,
Welcome Cijurey - Kulur,,,,!


Selasa, 24 Maret 2015

Hari Air Sedunia

Beritahu sungai dan tebing-tebing
kabari hutan dan lembah-lembah
bila kita tak melakukan apapun untuk menyelamatkan dan melestarikan air!

Kadang lupa berterimakasih padahal setiap saat dihidupi air
sampai suatu kala, banjir dan kekeringan mengingatkan
bahwa kita tak bisa hidup tanpanya
bahwa kita bisa binasa karenanya,,,

(Selamat Hari Air)

KORUPMATIKA

Ah, istilah yang digunakan untuk judul di atas itu hanya karangan sekenanya saja, maksudnya sih "matematika korupsi".... Tujuann...